Langsung ke konten utama

HUKUM PRANATA DAN PEMBANGUNAN


TUGAS 1

A. Pemasalahan Dunia Konstruksi Berkaitan Erat Dengan Biaya, Waktu dan Mutu

Dalam dunia bisnis jasa konstruksi yang amat kompetitif, masalah pengendalian biaya proyek merupakan hal yang sangat menentukan keberhasilan kontraktor dalam proyek-proyek yang ditanganinya.

 Pada pelaksanaan proyek konstruksi banyak dijumpai proyek yang mengalami pembengkakan biaya maupun keterlambatan waktu. Pembengkakan biaya pada tahap pelaksanaan proyek konstruksi sangat tergantung pada perencanaan, koordinasi dan pengendalian dan juga perhitungan biaya dari kontraktor.

Permasalahan yang dihadapi dalam  proses  penyelenggaraan  konstruksi secara   garis  besar   dapat   digolongkan   menjadi   2   (Dipohusodo,   1996),   yang pertama adalah kelompok masalah yang berhubungan dengan factor - faktor biaya, mutu,  dan  waktu  seperti pekerjaan terlambat  sehingga  biaya  tidak  hemat, mutu pekerjaan  tidak    memenuhi standar yang direncanakan.

Penyelenggaraan konstruksi  selalu  ditujukan  untuk  menghasilkan  suatu  bangunan  yang  bermutu dengan  pembiayaan  yang  tidak  boros,  dan  semuanya  harus  dapat  diwujudkan dalam  rentang  waktu  yang  terbatas.  Kelompok  masalah  yang  kedua  adalah masalah  yang  berhubungan  dengan  kegiatan  koordinasi  dan  pengendalian  untuk seluruh fungsi manajemen.

Sesuai dengan keadaan alamiahnya, mekanisme proses konstruksi  melibatkan banyak unsur  pelaksana  konstruksi,  sejak  pemberi  tugas atau pemilik sebagai pemrakarsa, para konsultan, kontraktor sebagai pembangun, pemasok material, sampai para pekerja bangunan.

Dalam penyelenggaraan konstruksi, faktor biaya merupakan bahan pertimbangan utama karena biasanya menyangkut jumlah yang besar dan rentan terhadap resiko kegagalan (Dipohusodo, 1996). Fluktuasi pembiayaan suatu konstruksi bangunan juga tidak terlepas dari pengaruh situasi ekonomi umum.

Indonesia yang merupakan negara sedang berkembang, dimana pembangunan dari segi fisik sedang giat - giatnya dikerjakan, sangat merasakan pengaruhnya di bidang jasa konstruksi. Dunia jasa konstruksi di Bali juga merasakan pegaruh dari krisis ekonomi yang berkepanjangan, dimana terjadi kenaikan harga material, peralatan serta upah tenaga kerja, kenaikan biaya sebagai akibat kenaikan suku bunga bank, keterbatasan modal kerja, atau penundaan waktu pelaksanaan kegiatan proyek, hal - hal tersebut akan dapat sebagai pendorong terjadinya pembengkakan biaya pada proyek konstruksi.

Jadi dapat kita simpulkan jika biaya, waktu dan mutu itu berbanding lurus dalam dunia konstruksi secara garis besar. diawali dengan biaya dan membutuhkan waktu sesuai dengan yang telah didtetapkan akan mempengaruhi mutu yang dihasilkan pada konstruksi tersebut.


B. Pemasalahan Konstruksi Berkaitan Dengan Koordinasi Dan Pengaturan Manajemen

 Koordinasi merupakan salah salah satu fungsi manajemen yang memegang peranan sama penting dan setara dengan fungsi-fungsi manajemen lainnya, kesuksesan koordinasi akan menjamin keberhasilan pelaksanaan pekerjaan atau pencapaian tujuan organisasi. Untuk itu perlu pemahaman yang mendalam tentang konsep koordinasi yang meliputi pengertian koordinasi, tujuan koordinasi, tipe koordinasi dan prinsip-prinsip koordinasi. Pemahaman yang baik atas koordinasi memungkinkan kita mampu dapat merencanakan dan melaksanakan koordinasi dengan baik.

 Menurut G.R. Terry koordinasi adalah suatu usaha yang sinkron dan teratur untuk menyediakan jumlah dan waktu yang tepat, dan mengarahkan pelaksanaan untuk menghasilkan suatu tindakan yang seragam dan harmonis pada sasaran yang telah ditentukan. Sedangkan menurut E.F.L. Brech, koordinasi adalah mengimbangi dan menggerakkan tim dengan memberikan lokasi kegiatan pekerjaan yang cocok dengan masing-masing dan menjaga agar kegiatan itu dilaksanakan dengan keselarasan yang semestinya di antara para anggota itu sendiri (Hasibuan, 2007:85).

Manajemen proyek dapat didefinisikan sebagai suatu proses dari perencanaan, pengaturan, kepemimpinan, dan pengendalian dari suatu proyek oleh para anggotanya dengan memanfaatkan sumber daya seoptimal mungkin untuk mencapai sasaran yang telah ditentukan. Fungsi dasar manajemen proyek terdiri dari pengelolaan-pengelolaan lingkup kerja, waktu, biaya, dan mutu. Pengelolaan aspek-aspek tersebut dengan benar merupakan kunci keberhasilan dalam penyelenggaraan suatu proyek.Dengan adanya manajemen proyek maka akan terlihat batasan mengenai tugas, wewenang, dan tanggung jawab dari pihak-pihak yang terlibat dalam proyek baik langsung maupun tidak langsung, sehingga tidak akan terjadi adanya tugas dan tangung jawab yang dilakukan secara bersamaan (overlapping).

Apabila fungsi-fungsi manajemen proyek dapat direalisasikan dengan jelas dan terstruktur, maka tujuan akhir dari sebuah proyek akan mudah terwujud, yaitu:
1.      Tepat Waktu
2.      Tepat Kuantitas
3.      Tepat Kualitas
4.      Tepat Biaya sesuai dengan biaya rencana
5.      Tidak adanya gejolak sosial dengan masyarakat sekitar
6.      Tercapainya K3 dengan baik

Pelaksanaan proyek memerlukan koordinasi dan kerjasama antar organisasi secara solid dan terstruktur. Dan hal inilah yang menjadi kunci pokok agar tujuan akhir proyek dapat selesai sesuai dengan schedule yang telah direncanakan.

Beberapa unsur organisasi yang masing-masing mempunyai fungsi yang berbeda. Adapun pihak-pihak tersebut antara lain:
1.      Pemilik proyek (owner)/investor yang juga merupakan konsultan manajemen konstruksi
2.      Konsultan perencana arsitektur, landscape, dan quantity surveyor.
3.      Kontraktor pelaksana utama yang membawahi:
·         Konsultan perencana struktur
·         Sub kontraktor spesialis

4.      Kontraktor pondasi

Dalam menjalankan tugas dan fungsinya, ke-4 pihak tersebut harus mempunyai hubungan kerja yang jelas, dan dapat bersifat ikatan kontrak, perintah, maupun garis koordinasi. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

TUGAS STUDI EKSKURSI 3 PEMBAGIAN KELOMPOK KAWASAN DUBAI CREEK
TUGAS KRITIK ARSITEKTUR Bangunan        : Istana Bogor Arsitektur        : Van Imhoff Istana Bogor terletak di pusat kota Bogor, di atas tanah berkultur datar, seluas sekitar 28.86 hektar, di ketinggian 290 meter dari permukaan laut, beriklim sedang dengan hawa yang sejuk. Istana Bogor dizaman kolonial menjadi salah satu tempat favorit Gubernur Jendral Hindia Belanda untuk beristirahat dari penat dan panasnya kota Batavia. Setelah masa kemerdekaan, Istana Kepresidenan Bogor mulai dipakai oleh pemerintah Indonesia sejak Januari 1950. Setelah kemerdekaan fungsi istana Bogor berubah menjadi kantor urusan kepresidenan serta menjadi kediaman resmi Presiden Republik Indonesia. Presiden Soekarno terkenal sebagai penggila seni, karena itu Istana Bogor dipenuhi dengan berbagai karya seni bernilai tinggi. Berbagai karya seni seperti patung Presiden Yugoslavia, Josef Broz Tito, patung Sarinah karya Trubus, dan...
TUGAS KONSERVASI ARSITEKTUR Usulan Pelestarian pada Bangunan Arsitektur Bersejarah Gedung Juang 45 Bekasi BAB III GAMBARAN KAWASAN 3.1 Eksisting Lokasi Gedung Juang 45 Bekasi ini berada di daerah Tambun, tepatnya di Jalan Sultan Hasanudin No. 5, Kelurahan Mekar Sari, Kecamatan Tambun Selatan, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat yang memiliki luas sekitar 1,78 Ha. 3.2 Eksterior dan Interior Gedung 45 Bekasi Bentuk fasad bangunan dari Gedung Juang 45 Bekasi. Desain pintu terlihat masih kental dengan budaya dan seni yang berkembang pada jaman dulu. Saat masuk ke dalam gedung terdapat lorong yang menghubungkan ke beberapa ruangan yang dibatasi dengan pintu. Terdapat ruangan yang memajang foto - foto maupun lukisan jaman dulu. Tangga menuju lantai atas pada Gedung Juang 45 Bekasi.